Jejak Gaya Hidup & Teknologi

Jenis Puasa Wajib Dan Puasa Sunah

88

Puasa berasal dari kata “saumu” yang artinya menahan diri dari segala sesuatu, mirip: menahan makan, minum, nafsu, dan menahan bicara yang tidak bermanfaat. Puasa wajib ada empat yakni: puasa di bulan Ramadan, puasa kifarat, puasa qada, dan puasa nazar. Puasa sunnah apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala, tetapi kalau tidak dikerjakan tidak mendapat dosa. Contoh puasa sunnah ialah puasa enam hari pada bulan Syawal, puasa hari Arafah, dan puasa hari Senin Kamis.

Sedangkan menurut istilah puasa yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat dan beberapa syarat tertentu, sesuai dengan firman Allah sebagai berikut:

…وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ….

Artinya:

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, adalah fajar…”(Q.S. al-Baqārah/2 :187)

Setiap orang yang percaya kepada Allah diwajibkan untuk berpuasa di bulan bulan berkat sebagaimana firman Allah sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kau berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kau agar kamu bertakwa.” (Q.S. al-Baqārah/2 : 183)

A. Puasa Wajib
Puasa wajib yaitu puasa yang harus dilaksanakan oleh setiap umat Islam yang sudah balig dan apabila ditinggalkan akan mendapat dosa. Macam-macam puasa wajib ada empat ialah:

 yang artinya menahan diri dari segala sesuatu Jenis Puasa Wajib dan Puasa Sunah

1. Puasa Ramadhan

Aspek Keterangan
Pengertian Puasa Ramadhanyaitu puasa yang dilaksanakan di bulan Ramadan. Puasa wajib ini mulai diperintahkan mulai tahun kedua hijrah, setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Hukumnya yakni fardu ‘ain.
Syarat wajib a) arif, b) balig, dan c) bisa berpuasa.
Syarat sahnya a) Islam,, b) Mumayiz (sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik), c) Suci dari darah haid dan nifas, dan d) Dalam waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa.
Rukun puasa
  1. Niat untuk berpuasa. Apabila diucapkan, maka niat puasa tersebut ialah sebagai berikut :
اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Artinya:

“Saya berniat puasa bulan ampunan esok hari untuk menjalankan kewajiban di bulan bulan berkat tahun ini karena mentaati perintah Allah Ta’ala.”

Niat untuk melaksanakan puasa dilakukan pada malam hari sebelum memulai puasa dan selambat-lambatnya sebelum terbit fajar.

  1. Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.
Hal-hal yang membatalkan a) Makan dan minum, b) Muntah yang disengaja atau dibuat-buat, c) Berhubungan suami istri, d) Keluar darah haid atau nifas bagi wanita,, e) Gila, dan f) Keluar cairan mani dengan sengaja.
Hal-hal yang disunnahkan a) Berdoa ketika berbuka puasa, b) Memperbanyak sedekah, c) Śalat malam, termasuk salat tarawih, dan d) Tadarus atau membaca al-Qur’ān.
Hal-hal yang mengurangi pahala puasa Membicarakan kejelekkan orang lain, berbohong, mencaci maki orang lain, dan sebagainya
Orang-orang yang boleh berbuka pada bulan bulan rahmat
  1. Orang yang sedang sakit dan tidak besar lengan berkuasa untuk berpuasa atau apabila berpuasa sakitnya semakin parah, dia harus menggantikannya di hari lain apabila sudah sembuh nanti.
  2. Orang yang sedang dalam perjalanan jauh. Ia pun wajib mengqada puasanya di hari lain.
  3. Orang bau tanah yang sudah lemah sehingga tidak berpengaruh lagi untuk berpuasa. Ia wajib membayar fidyah (beramal) tiap hari ¾ liter beras atau yang sama dengan itu kepada fakir miskin.
  4. Orang yang sedang hamil dan menyusui anak, mereka wajib mengqada puasanya sebagaimana orang yang sedang sakit. Kalau hanya khawatir akan mengakibatkan mudarat bagi anaknya, ia wajib mengqada puasanya dan membayar fidyah kepada fakir miskin
Read More :  Potensi Indonesia Sebagai Negara Bahari Dan Agraris

2. Puasa Nazar

Aspek Keterangan
Pengertian Puasa nazar yaitu puasa yang dilakukan karena mempunyai nazar (akad kebaikan yang pernah diucapkan). Puasa ini wajib dilaksanakan dikala keinginannya atau cita-citanya terpenuhi.
Hukum Hukum puasa nazar ialah wajib dilaksanakan sebagaimana firman Allah sebagai berikut:

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

Artinya:

”Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana”. (Q.S. al-Insan/76:7)

Nazar harus berupa amal kebaikan. Jika seseorang kelepasan bernazar untuk
berbuat maksiat kepada Allah, maka hal tersebut tidak wajib bahkan tidak
boleh dilakukan, bahkan beliau harus beristigfar memohon ampun kepada Allah atas nazar berbuat maksiat tadi.

3. Puasa Qada

Aspek Keterangan
Pengertian Puasa Qadayaitu puasa yang kita niatkan untuk mengganti kewajiban
sesudah lewat waktunya. Misalnya orang yang meninggalkan puasa
alasannya adalah sedang haid, berkewajiban mengganti puasa tersebut di bulan
yang lainnya.
Ketentuan Apabila meninggalkan puasanya enam hari, wajib baginya mengqada enam hari (sebanyak jumlah hari yang ditinggalkan). Batas waktu untuk mengqada puasanya adalah hingga tiba bulan rahmat berikutnya. Apabila tidak dilakukan, beliau wajib mengqada serta membayar fidyah.

4. Puasa Kifarat

Aspek Keterangan
Pengertian Puasa Kifarat Puasa kifarat adalah puasa yang wajib dikerjakan karena melanggar suatu aturan yang telah ditentukan.
Ketentuan Puasa kifarat wajib dilaksanakan apabila terjadi hal-hal berikut:

  1. Tidak mampu memenuhi nazar (Jika tidak bisa membayar fidyah, kita wajib berpuasa selama tiga hari.
  2. Berkumpul dengan istri di siang hari pada bulan ampunan ( wajib melakukan puasa kifarat selama dua bulan berturut-turut.
  3. Membunuh secara tidak sengaja ( membayar kifarat berupa memerdekakan hamba sahaya sambil menunjukkan sumbangan kepada pihak korban. Jika tidak bisa, dia harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut)
  4. Melakukan zihar kepada istrinya (menyamakan istri dengan ibunya (membayar kifarat dengan memerdekaan hamba sahaya atau berpuasa dua bulan berturut-turut)
  5. Mencukur rambut saat ihram (memberikan sedekah kepada enam fakir miskin atau berpuasa tiga hari)
  6. Berburu saat ihram (ditentukan oleh keputusan hakim yang dinilai jujur)
  7. Mengerjakan haji dan umrah dengan cara tamattu’ atau qiran (menyembelih seekor kambing yang pantas untuk berqurban. Apabila tidak mampu ia wajib melakukan puasa selama sepuluh hari. Tiga hari wajib ia kerjakan pada dikala ihram paling lambat pada hari raya Haji dan tujuh harinya wajib dilaksanakan setelah ia kembali ke tanah airnya)

B. Puasa Sunnah
Puasa Sunnah yakni puasa yang dalam pelaksanaannya tidak diwajibkan, akan tetapi sangat dianjurkan dan waktu pelaksanaannya juga pada waktu-waktu yang tertentu. Cara mengerjakan puasa sunah sama mirip melakukan puasa bulan puasa, adalah dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Beberapa puasa yang disunnahkan untuk dilaksanakan
selain puasa wajib, yaitu:

1. Puasa Syawal
Puasa ini dilaksanakan sehabis tanggal 1 Syawal. Jumlahnya ada enam hari. Cara mengerjakannya boleh dikerjakan enam hari berturut-turut atau boleh juga dilaksanakan dengan cara berselang-seling. Misalnya sehari puasa sehari tidak. Hal ini menurut hadis sebagai berikut:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya :
“Dari Abu Ayub, dari Rasulullah saw. berkata : siapa berpuasa bulan berkat kemudian mengikutinya dengan berpuasa 6 hari di bulan Syawal, yang demikian itu (pahalanya) mirip puasa setahun.” (H.R. Jama’ah kecuali Bukhari dan Nasa’i).

2. Puasa Arafah (Tanggal 9 Zulhijjah)
Puasa ini dilaksanakan dikala orang yang melakukan ibadah haji sedang wukuf di Padang Arafah. Sedangkan orang yang menunaikan ibadah haji tidak disunnahkan melaksanakan puasa ini.

Keistimewaan puasa Arafah ini mampu menghapus dosa selama dua tahun: yakni satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan tiba sebagaimana tertuang dalam Hadis yang artinya:

“Dari Abu Qatadah, nabi saw., telah berkata,” puasa hari Arafah itu menghapuskan dosa dua tahun: satu tahun yang telah lalu, dan satu tahun yang akan tiba.”(H.R.Muslim)

3. Puasa Hari Senin dan Kamis
Puasa hari Senin dan Kamis adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis. Sebagaimana Hadis yang artinya :

“Rasulullah bersabda : Ditempakan amal-amal umatku pada hari Senin dan Kamis dan aku bahagia amalku ditempakan, maka aku berpuasa”. (H.R. Ahmad dan at-Tirmidzi)

C. Waktu yang diharamkan untuk berpuasa
Allah Swt. Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dalam waktu-waktu tertentu kita tidak boleh berpuasa. Adapun waktu yang diharamkan untuk berpuasa ialah:

  1. Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha
  2. Hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah
  3. Hari yang diragukan (apakah sudah tanggal satu bulan puasa atau belum)

D. Hikmah Berpuasa
Orang muslim yang senantiasa melaksanakan puasa akan mendapatkan banyak manfaat, antara lain:

  1. Meningkatkan keyakinan dan takwa serta mendorong seseorang untuk rajin bersyukur kepada allah Swt. Ini merupakan tujuan utama orang yang berpuasa.
  2. Menumbuhkan rasa solidaritas terhadap sesama terutama kasih sayang terhadap fakir miskin.
  3. Melatih dan mendidik kesabaran dalam kehidupan sehari-hari alasannya adalah orang yang berpuasa terdidik menahan kelaparan, kehausan, dan harapan. Tentulah dengan tabah dia mampu menahan segala kesulitan tersebut.
  4. Dapat mengendalikan hawa nafsunya dari makan minum dan segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
  5. Mendidik diri sendiri untuk bersifat sidiq alasannya adalah dengan berpuasa dapat menjaga diri dari sifat pendusta. Sifat ini mampu menghilangkan pahala puasa.
  6. Dengan berpuasa kita juga memperlihatkan waktu istirahat bagi organorgan yang ada di badan kita. Sehingga tidak mengherankan bahwa orang yang berpuasa akan menjadi lebih sehat.

Comments are closed.